Kesehatan

Yahudi Pasti Kalah

Allah SWT berfirman :

“Mereka sekali-kali tidak akan dapat membuat mudharat kepada kamu, selain dari gangguan-gangguan celaan saja, dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah). Kemudian mereka tidak mendapat pertolongan.” (QS.ali-Imran [3] :111)

Kalimat lan yadhurruu (dengan wawu al-jamaah) pada ayat di atas merujuk kepada kaum Ahli Kitab, sedangkan kata ganti kum menunjuk kepada umat Islam. Kesimpulan tersebut dapat dipahami dari ayat sebelumnya :

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali-Imran (3) : 110).

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa kaum Ahli Kitab sekali-kali tidak akan dapat menimpakan mudharat atau bahaya kepada kaum Muslim. Kalaupun ada bahaya, maka bahaya tersebut amatlah ringan. Atau dalam ayat tadi disebut sebagai adza(n).

Menurut ar-Razi, bahaya ringan atau adza(n) tersebut hanya terbatas pada bahaya lisan saja. Seperti penghinaan terhadap Rasulullah SAW; menampakkan kekufuran; atau menakut-nakuti kelemahan kaum Muslim.

Bagi umat Islam yang memiliki karakter Khairu Ummah sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya, semua gangguan itu tidak akan membahayakan sedikitpun. Inilah yang seharusnya dipahami umat Islam.

Ketidak mampuan kaum Ahli Kitab untuk menimpakan bahaya kepada kaum Muslim, dikukuhkan oleh frasa selanjutnya : ”dan jika mereka berperang dengan kamu, pastilah mereka berbalik melarikan diri ke belakang (kalah).” Ayat ini menggambarkan satu karakter yang dimiliki kaum Ahli Kitab. Jika mereka berperang menghadapi kaum Muslim, sudah pasti mereka akan berbalik dan lari tunggang langgang. Mereka tidak akan berani melanjutkan pertempuran; mereka kalah secara memalukan.

Pada masa Rasulullah SAW berita gembira dalam ayat tersebut telah benar-benar terjadi. Rasulullah berhasil mengusir kabilah Bani Qainuqa’ dan kabilah Bani Nadhir dari Madinah. Sedangkan kabilah Bani Quraidhah setelah berhasil ditundukkan divonis dengan hukuman amat berat. Kaum laki-lakinya dihukum mati, sementara kaum wanita dan anak-anaknya dijadikan tawanan. Begitu pula Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kaum Yahudi di Khaibar. Hingga akhirnya seluruh jazirah arab bersih dari komunitas Yahudi.

Selain kaum Yahudi, kaum Nasrani pun mengalami nasib serupa. Dalam perang Tabuk, tentara Romawi telah terlebih dahulu meninggalkan Tabuk sebelum bertemu dengan pasukan kaum Muslim yang dipimpin Rasulullah SAW. Mereka ketakutan setelah sebelumnya merasakan ketangguhan tentara Islam dalam perang Mu’tah. Saat itu tentara mereka yang berjumlah 200 ribu begitu kewalahan menghadapi tentara Islam yang jumlahnya hanya 3 ribuan. Semua itu menjadi bukti, bahwa sesungguhnya mereka itu amatlah lemah.

Jika demikian halnya, mengapa saat ini umat Islam bisa mereka kalahkan? Bila dicermati, berita tentang ketakutan dan kekalahan kaum Ahli Kitab itu setelah penyebutan umat Islam sebagai Kairu Ummah (umat terbaik).

Predikat ini diberikan kepada umat Islam karena mereka memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang munkar dan mereka beriman kepada Alllah SWT. Menurut as-Sa’di, mereka telah berupaya menyempurnakan diri mereka dengan beriman kepada Allah dan mengerjakan apa yang diperintahkan dan menyempurnakan pihak lain dengan melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka tidak hanya menerapkan syariah kepada diri mereka sendiri namun juga kepada pihak lain. Umat seperti inilah yang ditakuti oleh kaum Ahli Kitab. Sayangnya, karakter umat seperti itu sudah lama menghilang dari kaum Muslim.

Contoh paling jelas adalah dalam perkara wala’ (loyalitas). Islam telah menetapkan bahwa kaum Muslim hanya diperbolehkan mengangkat wala’ (pemimpin/penguasa) dan bithanah (teman dekat/kepercayaan) dari kalangan mereka sendiri, yakni kaum Muslim. Sesama mereka ditetapkan sebagai saudara yang ruhama’ baynahum. Ketika berperang melawan musuh, mereka diperintahkan berada dalam satu barisan yang teratur laksana suatu bangunan yang kokoh.

Sikap sebaliknya diberlakukan kepada kaum kafir. Kaum Muslim dilarang untuk menyerahkan wala’ kepada mereka, bahkan kaum Muslim harus bersikap keras terhadap mereka (asyidda’ alal kuffar).

Kini, ketentuan syara’ ini dilanggar oleh penguasa di negeri-negeri kaum Muslim. Mereka tidak hanya menyerahkan wala’ kepada kaum kafir, tapi mereka juga berada di belakang barisan tentara kafir ketika menyerang Islam dan kaum Muslim.

Tampaknya, inilah faktor utama kekalahan kaum Muslim dalam menghadapi kaum kafir. Para penguasa Muslim lebih memilih bersahabat dan bergandengan tangan dengan kaum kafir daripada dengan saudara mereka seaqidah. Padahal Allah SWT telah berfirman :

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal [8] : 73}. (diambil dari Tabloid Media Ummat edisi Januari 2009)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: